Sunday 17th December 2017

TEMU HARMONI TOKOH AGAMA Se-KABUPATEN BOJONEGORO

TEMU HARMONI TOKOH AGAMA Se-KABUPATEN BOJONEGORO

Bojonegoro indoshinju.com indonesia merupakan negara yang memiliki banyak culture budaya serta agama, Hal ini jika tidak dimanage dengan baik akan berdampak pada perpecahan bangsa kita. Seperti halnya akhir ini yang sangat sensitif terhadap isu SARA, Dimana banyak oknum yang memanfaatkan hal tersebut untuk mengadu domba antar berbagai pihak.Namun hal tersebut tidak berlaku di kabupaten Bojonegoro, Hal ini dikarenakan kerukunan antar umat beragama di Bojonegoro terbina dengan baik.

Untuk menjaga kerukunan umat beragama Forum Kerukunan Umat Beragama Paguyuban Umat Beragama Kabupaten Bojonegoro mengadakan Temu Harmoni Tokoh Agama se Kabupaten Bojonegoro dengan tema “Membangun Soliditas Tokoh Agama Menuju Bangsa Yang Bermartabat”.

 

Acara yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Al-Rosyid (6/12) ini juga dihadiri oleh jajaran FORPIMDA, dan seluruh tokoh agama di kabupaten Bojonegoro.

Sekretaris Paguyuban Umat Beragama Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Bojonegoro H. Lukman Wafi, S.H., M.Si yang sekaligus merupakan moderator sambutan bersama antara Kapolres Bojonegoro dengan Dandim 0813 mengatakan sudah 3 tahun FKUB ini mengadakan acara temu harmoni antar umat beragama.

 

Ini semua berkat dukungan dari pemerintah kabupaten Bojonegoro untuk menjaga kerukunan umat beragama di Bojonegoro.

Keamanan dan kedamaian di kabupaten bojonegoro berkat kerjasama diantara semua pihak yang berkepentingan.

Dalam kesempatan tersebut Kapolres Bojonegoro AKBP Wahyu S. Bintoro, S.H., S.IK, M.Si menyampaikan bahwa kita hidup dalam ke guyuban dan kedamaian di Bojonegoro.

Sementara banyak daerah yang mengalami konflik antar agama. Bahkan ada pula negara yang mengalami konflik yang seagama. Kita harus bersyukur hidup di Bojonegoro karena masyarakatnya guyub rukun, tidak ada konflik SARA.

Ini semua berkat kerjasama semua pihak, Semua berkat usaha bersama Forpimda Plus.

Karena Gus Huda ini baru pertama kali Dandim dan kapolres bisa satu panggung dalam menyampaikan sambutan bersama, biasanya sendiri-sendiri, ini menunjukkan TNI Polri kuat.

 

Selain itu ini menunjukkan bahwa Polisi dan juga TNI bisa bekerjasama dengan baik. Hal tersebut sangat membantu bagi tercapainya keamanan dan juga kedamaian di Bojonegoro. TNI Polri tidak bisa menjaga keamanan dan kedamaian di Bojonegoro tanpa bantuan dari berbagai pihak.

Karena menjaga keamanan dan kedamaian merupakan tugas bersama.

Dilain waktu Dandim 0813 Letkol. Arh. Redinal Dewanto, S.Sos menyampaikan bahwa sebagian banyak masayarakat kita sudah menggunakan gadget dalam keseharian kita, dengan banyak masyarakat kita yang menggunakan gadget ini itu menunjukkan kita saat ini sedang menghadapi proxy war. proxy war merupakan bentuk penjajahan baru bagi negara kita.

Proxy war ini digunakan untuk menjajah negara kita agar negara kita hancur secara perlahan-lahan. Dimana apabila generasi muda kita sudah fokus pada gadget maka mereka akan apatis dengan kesatuan bangsa kita. Hal itu bisa membuat dengan mudah bangsa kita hancur.

Sebenarnya bangsa kita adalah bangsa pejuang dan bangsa kesatria, para penjajah takut terhadap bangsa kita.

 

Maka dari itu mereka sejak dahulu cara mereka untuk dengan mudah mengahancurkan bangsa kita adalah dengan memecahbelah bangsa tersebut. Hal itu dilakukan agar bisa dengan mudah untuk menjajah bangsa kita.

 

Maka dari itu perlu peran para tokoh agama untuk menciptakan keamanan dan kedamaian serta menjaga persatuan dan kesatuan bangsa kita. TNI dan Polri tidak bisa melakukan itu semua sendirian kita perlua bantuan semua pihak untuk menciptakan keamanan dan kedamaian.

KH. Alamul Huda Masyur yang sekaligus ketua FKUB dalam sambutannya menyampaikan bahwa mungkin hanya di Bojonegoro seluruh tokoh agama bisa berkumpul jadi satu dalam satu tempat.

Ini menunjukkan bahwa di Bojonegoro ini aman dan damai. Terjaminnya keamanan dan kedamaian di Bojonegoro merupakan berkat kerjasama jajaran FORPIMDA Plus.

Peran tokoh agama juga perlu mendapat perhatian bagi terjaminnya keamanan dan kedamaian. Karena bukan hanya tugas polisi dan juga TNI saja untuk menjaga keamanan tapi juga tugas dari pemerintah serta para tokoh agama untuk menjaga keamanan.

Bupati Bojonegoro Kang Yoto menyampaikan bahwa agama tidak melarang perbedaan, agama melarang perpecahan.

Negara adalah entitas dari sebuah masyarakat. Bung Karno dalam pidatonya di sidang BPUPKI menyampaikan bahwa kita disini hadir untuk bersatu.

Persatuan kita ini merupakan semangat dari masyarakat kita untuk menjaga ketahanan dan juga keamanan bangsa kita.

Kita bersatu untuk membangun bangsa kita menjadi lebih maju. Sejak kecil saya hidup sudah berdampingan dengan perbedaan.

Saya sejak kecil sudah didoktrin untuk membela salah satu ormas agama. Namun ketika saya sudah mulai menginjak kuliah dan masuk masa reformasi saya mulai bertemu dengan banyak tokoh baik yang seagama maupun lintas agama.

Dari situ saya baru sadar bahwa kelompok yang saya bela sejak kecil hanya merupakan bagian kecil dari bangsa ini.

Selama ini kita hanya membela kelompok kita, tanpa memikirkan bagaimana persatuan bangsa kita dimana hal ini jauh lebih besar untuk di perjuangkan.

 

Kita harus memperjuangkan apa yang jauh lebih besar untuk diperjuangkan.
kita jangan mau untuk dipecah belah dengan isu-isu SARA. Sejatinya mereka yang terjerumus terhadap isu SARA adalah mereka sedang salah jalan.

 

Kewajiban kita terhadap mereka adalah untuk mengingatkan mereka. Isu SARA diluncurkan hanya untuk dapat memecahbelah bangsa ini.

Kita harus bisa menjadi contoh bagi bangsa Indonesia bahwa Bojonegoro bisa menjalin kerukunan antar umat beragama.

Kita mungkin menjadi satu-satunya kabupaten di jawa timur yang memiliki forum kerukunan umat beragama, serta terjalin kekompakan diantara para penganut agama.

Kita harus menularkan virus kebaikan ini kepada daerah lain. Agar keamanan dan kedamaian di bojonegoro ini bisa menular ke daerah lain.(Shinju/Red

No Responses

Leave a Reply

18 − ten =