BOJONEGORO _ INDOSHINJU.COM _ Pada selasa 26/11/2019- di Aula pertemuan Mini lokakarya lintas sektor Tribulan 4 Puskesmas kota Bojonegoro pembahasan mengenai Stunting oleh lintas sektor puskesmas Kota Bojonegoro.
Kegiatan yang di hadiri oleh Camat kota, Kapolsek, Danramil, Bidan Desa, Tenaga kesehatan Puskesmas bojonegoro, Dari Tokoh Agama (kepala KUA ) Kepala Desa , kepala kelurahan Kader kesehatan dan tokoh masyarakat lainya.
Pada kesempatan pertama Muhlisin camat kota Bojonegoro mengatakan bahwa kecamatan kota Bojonegoro terkait Stunting, dan gizi buruk, “Harapan kami ,Stuntinh tidak ada, Tidak ada gizi Buruk th 2020 Mendatang semoga semua, rencana teratasi semua karena karena permasalahan di kota kabupaten cenderung terjadi pada lokasi/wilayah pemukiman yang kumuh, Bagai mana cara mengatasi dan upaya mengurangi Stanting, Giji Buruk, Bekerja sama dengan Lintas sektor, jika di perlukan adanya penambahan anggaran untuk penanganan Giji Buruk oleh Desa maupun wilayah kelurahan.”Harap Camat kota Bojonegoro.
Terkait Masalah kader di desa dan kota bisa melalui Analisa integrasi kader.
Semua Program pemerintah dan informasi dari pemerintah tidak berhenti di jalan . Sehingga putus informasi . ” Bagai mana cara mengelola informasi supaya bisa sampai ke tingkat paling bawah (Rt).” Harapnya.
Bagai mana Rasa peduli di wilayah perkotaan ditingkatkan kembali, ini tugas bagi kita semua, dari 7 desa dan kelurahan
Di tingkatkan lagi sinergitas dengan 3 pilar TNI ,POLRI Dan pemerintahan kab.bojonegoro (camat kota Bojonegoro).” Tambahnya.


Perwakilan Danramil Meminta setiap kegiatan Posyandu pun ingin ikut bersinergitas, sewaktu waktu, cukup dengan Memberitahukan Jadwal kegiatan, dari tim kami pastikan bisa hadir demi meningkatkan sinergitas 3 pilar, dan harapan kami bisa berfungsi dengan maksimal” Pungkasnya.
Sama halnya dengan Babin kantibmas kel. Banjarrejo.ipda Banu yang kebetulan mewakili dari Polsek Bojonegoro dan menyampaikan dalam forum tersebut ”
Kami dari pihak Kepolisian Polres Bojonegoro polsek kota bojonegoro khususnya Sangat mendukung dan mengapresiasi kegiatan lintor ini, dengan kita saling bersinergi di lintas sektor insha allah permasalah di wilayah perkotaan bisa teratasi dengan baik”.tegasnya .
Pada Acara yang sama kapala Puskesmas Bojonegoro Dr. teguh menyampaikan di hadapan Forum Lintor Yang hadir bahwa “Meskipun
Bojonegoro bukan lokasi khusus penangan Proyek penanganan stunting, Namun Stunting kurangnya Asupan giji mulai dari sejak pra hamil hamil balita harus di Antisipasi, Karena penyebabnya Kurangnya pengetahuan ibu terhadap kesehatan ibu pada saat pra hamil dan masa hamil, di indikasi kurang terpantau dengan baik, sehingga mengganggu perkembangan janin waktu hamil. Sampai melahirkan.”Jelas Dr.Teguh.

Tetapi Rata Rata anak balita Yang kena stunting adalah dari keluarga / ibu yang Bekerja, dan tidak bisa memberikan asupan Gizi cukup pada balita, yang di mulai sejak dari 1000 hari masa mulai kehidupan, selain itu prilaku hidup bersih dan sehat PHBS yang tidak di terapkan dalam hidup sehari _ hari. (Isc)


