BOJONEGORO: DESA RASA KOTA, KOTA RASA DESA, YANG DI HADIRI OLEH SEGENAP UNDANGAN DARI BERBAGAI KALANGAN MASYARAKAT KAB.BOJONEGORO. yang berjudul “INTERNATIONAL SYMPOSIUM
BOJONEGORO – (Indoshinju.com) Senin 26/02/2018 pemerintah Daerah bojonegoro, mengadakan acara internasional Symposium di Lantai 4 Gedung pemerintah kabupaten Bojonegoro.
BOJONEGORO: DESA RASA KOTA – KOTA RASA DESA. Penyampai materi dalam acara symposium adalah
1 Dr.H Suyoto M.Si
2 Floria Heinjilman Dipl.ing.(FH, M.Arch. SBA
3 Daliana Suryawinata ST. M. Arch.IAI
4 Ir Wiwik Tjook. MSc.(amsterdam)
Selaku moderatornya adalah Ir. Pauline Boedianto Msc.
Acara symposium di lantai 4 Gedung pemerintah ini adalah Kegiatan yang di hadiri oleh forkopimda, Muspida, Lsm , lembaga swasta, penggiat usaha swasta maupun usaha kecil menengah, juga Goldenline ini dibuat untuk merespon positif karakteristik Bojonegoro sebagai kabupaten di Jawa Timur, dimana kesederhanaan dan kesantaian merupakan kualitas yang unik, dan jarang di dapat di daerah lainya.
Pengalaman yang lebih manusiawi masih mungkinkan menjadi kekayaan yang diartikan dalam hal-hal yang benar-benar penting (esensial) bagi kehidupan dari pada kekayaan materi.
Kota Bojonegoro memiliki luas 46.38 km2 dengan populasi 90,329 jiwa pada tahun 2013. Kendati biasanya suatu kota di negara dengan perkembangan pesat lndonesia cenderung tumbuh menjadi kota yang generik dengan ekspansi yang tidak terkontrol seperti Jakarta,
Menjadi suatu kebutuhan baru untuk memvisikan perkembangan kota Bojonegoro ke arah kota yang bebas stres, yang menghargai kesantaian kenyamanan dengan kualitas desa namun dengan infrastruktur dan fasilitas yang maju.
Terdapat 430 desa di kabupaten Bojonegoro, yang mana pertumbuhannya sangat signifikan, Hidup di desa bisa jadi lebih disukai dari pada di kota. Seperti diungkapkan oleh Bupati Bojonegoro Dr. H.Suyoto M. Si.
kehidupan di kota dengan suasana desa, dan kehidupan di desa dengan suasana kota, sesuai dengan karakteristik masyarakat Bojonegoro yang sangat mencintai tanah kelahirannya serta kebiasaan bawaan dari orang tua,
“seperti saya lebih suka kalau minum kopi pake cankir kecil , dan makanan paling enak adalah masakan ibu saya , ” ungkap kang Yoto
Di waktu terpisah [ Ketika urbanisasi terjadi dengan pesat, jangan-jangan yang kita butuhkan sebenarnya adalah kembali ke desa? Hidup di desa memiliki banyak keuntungan, seperti kualitas udara yang lebih baik, kedekatan dengan alam, gaya hidup yang jauh lebih sehat, dan Iainnya. Jelas kang yoto.
Yang kurang barangkali hanya aksesibilitas, seperti fasitas umum sesuai standar kota dan transportasi umum. Kalau begitu, lebih sedikit yang perlu diperbaiki di desa dari pada di kota.
Dalam acara tersebut moderator Paulin mengatakan “Banyak orang kota yang ingin tinggal di kota metropolitan tapi Rasa hutan, seperti di New york tapi di bojonegoro kita temukan ada desa rasa kota, dan kota rasa Dunia”ungkap Paulin.
Sesi tanya jawab “Perlunya kepala desa menyiapkan tempat pengelolaan sampah, sehingga sampah sampah yang berasal dari masyarakat setempat, tidak di buang sembarang tempat, seperti di bawa kolom jembatan, di sungai sungai, kalau kerja sama ini bisa terwujud desa rasa kota-kota rasa desa pasti sehat dan nyman” ungkap Nurul Azizah menjabat sebagai kepala dinas lingkungan hidup.
Masih sesi tanya jawab ” seandainya di sekitar bantaran sungai bengawan solo di arahkan agar rumah rumah yang ada di bantaran sungai untuk menghadap ke sungai, dan sekitar Bendungan gerak di buatkan supermarket atau penyediaan makanan atau kedai makan, bila perlu di fokuskan khususnya menjadi tempat pariwisata. Yang bisa mendatangkan touris lokal maupun nasional Sehingga “kelak bisa bantu menambah penghasilan warga dan tingkatkan ekonomi masyarakat bojonegoro ,” ungkap Waji camat trucuk.
Acara symposium berjalan dengan lancar aspirasi dan uneg uneg dari para tamu undangan yang hadir semua terjawab oleh Narasumber.(Shinju).

