INDOSHINJU.COM – BOJONEGORO – Gunung Lawu di Jawa Timur jadi destinasi menantang untuk ditaklukkan di akhir pekan. Pengalaman mendaki Gunung Lawu akan terkenang seumur hidup. Gunung yang terletak di perbatasan jawa tengah dan jawa timur ini memiliki banyak kisah mistis yang tersimpan didalamnya.
Banyak pendaki yang pernah mengalami kejadian mistis ketika mendaki untuk sampai kepuncak gunung lawu hargodumilah (3265 mdpl).
Komunitas Bojonegoro 88 mencoba untuk mendaki ke puncak hargodumilah adalah Heru sugiharto, Agus Sutikno, Didik, Kawan. Rombongan kecil ini dipimpin oleh Heru Sugiharto selaku ketua rombongan dan merupakan salah satu pentolan dari komunitas Bojonegoro 88
Mereka mempunyai misi untuk mengagumi dan menikmati keindahan alam ciptaan illahi ini, melampiaskan hasrat akan kecintaan alam serta, mengibarkan bendera merah putih dan juga bendera komunitas Bojonegoro 88.
Pada sabtu dini hari jam 01.00 wib Sesampai di pintu gerbang Cemoro Sewu sebagai titik awal pendakian sembari istirahat rombongan mempersiapkan apa yang sepertihalnya air minum, makanan ringan seperti roti, mie instan, obat obatan dsb.
serta doa bersama untuk mengawali pendakian ke puncak hargo dumilah agar diberi kelancaran dan juga keselamatan selama melakukan pendakian dan kembali dengan selamat.
Tepat pukul 01.15 bojonegoro 88 mengawali pendakian dari pintu gerbang cemmoro sewu, mengisi kejenuhan dengan bernyanyi, berfoto dialam terbuka.
Rombongan komunitas Bojonegoro 88 selama pendakian mendapat tantangan yang tidak mudah mulai dengan hadirnya aroma aroma mistis, perjalanan pendakian yang berat, melawan dinginnya hawa pegunungan namun perjalan yang berat dihadapi oleh rombongan tersebut.
Rombongan melewati itu semua dengan hati gembira, karena menikmati keindahan alam ciptaan tuhan yang tidak ternilai ini dengan bebas tanpa merusaknya.
Perjalanan ke puncak hargo dumilah tidak segampang yang dipikirkan rombongan, hal ini dibuktikan dengan 2 orang tinggal di Pos 4 yang terpaksa tidak bisa melanjutkan perjalanan karena beberapa faktor, kelelahan, habis nya perbekalan mereka adalah Tikno dan Didik.
Sementara itu Heru dan Kawan masih bisa melanjutkan perjalanan sampai ke Pos 5 dan mereka pada pukul 17.30. kenapa hal ini memakan waktu lama karena medan yang dilalui tidak seperti yang dibayangkan. Sehingga menguras tenaga yang cukup terkuras.
Setalah sampai di pos 5 heru dan kawan beristirahat sejenak untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke puncak hargo dumilah. Mereka mengisi energi terlebih dahulu untuk bisa menggapai puncak
Tepat pukul 06.30 setelah dirasa cukup istirahatnnya rombongan yang hanya tinggal tersisa dua orang ini kemudian melanjutkan perjalanan menuju puncah hargo dumilah (3265 mdpl).
Sama seperti perjalanan dari titik awal sampai pos 5 medan yang dilalui menuju puncak hargo dumilah (3265 mdpl) heru dan juga kawan menghadapi medan menghadapi medan yang berat dingin nya hawa pegunungan, medan terjal dan badai angin yang cukup menguras tenaga. Sehingga mereka baru bisa sampai ke puncak hargo dumilah pada pukul 07.46
Setelah sampai di puncak hargo dumilah (3265 mdpl) mereka beristirahat sambil menikmati keindahan alam ciptaan ilahi ini. mereka sangat kagum dengan alam indonesia yang begitu indah ini, sampai mereka tidak bisa berkata apa-apa, hanya rasa syukur kepada Tuhan YME yang hanya bisa mereka panjatkan.
Setelah dirasa cukup rombongan pada pukul 09.15 turun ke bawah kembali ke titik awal pendakian Rombongan baru sampai ke titik awal pendakian pada pukul 15.30.
sesampainya dibawah heru sugiharto selaku ketua rombongan menyampaikan kepada awak media “medan yang kita lalui cukup sulit mulai dari titik awal pendakian sampai ke puncak hargo dumilah (3265 mdpl) hal ini dibuktikan dengan hanya 2 orang saja yang bisa sampai kepuncak hargo dumilah dan yang 2 lagi hanya sampai Pos 4 saja.
Kita sadar medan yang kita lalui berat dan kita sudah tidak muda lagi. Serta fisik kita juga tidak sekuat waktu muda dulu, maka dari itu perjalan kita memakan waktu yang cukup lama dari kebanyakan pendaki yang lainnya.
Namun meski fisik kita sudah tidak sekuat dulu, dan umur sudah tidak muda lagi, namun semangat kita tidak kalah dengan yang masih muda.
Kita berani bersaing dengan yang muda kalau soal semangat mendaki dan kecintaan kita dengan alam Indoneaia. kita juga ingat tentang misi yang kita emban untuk menjaga lingkungan alam kita dan tidak merusaknya.
Meskipun berat dan penuh tantangan hal itu pula yang memacu kita untuk bisa sampai ke puncak hargodumilah (3265 mdpl) dan pulang dengan selamat
Ini perjalanan dan perjuangan yang menyenangkan yang tidak akan kita lupakan dan Komunitas Bojonegoro 88 terus akan melakukan perjalanan sebagai wujut kecintaan serta merawat dan menjaga alam Indonesia yang indah.
Dan tidak ada cerita indah selain mendaki gunung tutup heru ketua rombongan.(Shinju)


