Batu Akik Kujang,Yang Tembus London

KARAWANG – INDOSHINJU.COM – Rabu, 19/6/2019 Seorang pengrajin batu akik asal Karawang Provinsi Jawabarat, salah satunya dengan inovasi dan pemasaran yang berbeda. Siapa sangka hasil karyanya itu pernah dipamerkan di London.

Ki Nata, panggilan akrabnya menuturkan”Saya berpikir bagaimana caranya agar peminat tetap ada. Maka saya pasarkan juga secara online dengan harga yang unik,” kata Ki Nata ditemui di Saung Batu Kujang Karawang di Perumnas Bumi Telukjambe, Blok T Nomot 490, RT 003 RW 011, Desa Sukaharja, Kecamatan Telukjambe Timur, Kabupaten Karawang.

Ia kemudian berinisiatif membentuk batu dengan motif Kujang, senjata tradisional Jawa Barat. Ia menyebut ada filosofi tersendiri terkait lekukan dan lubang di bentuk batu kujang. Meski demikian, ia mengakui bukan yang pertama membuat motif ini.

Perjalannya sebagai perajin batu akik memang tak langsung mulus. Ia harus berlatih berkali-kali agar bentuknya sesuai keinginan, katanya.

Menurutnya, membentuk batu akik bukan semata demi tuntutan komersil semata. Melain juga soal seni keindahan. Ki Nata juga mengaku belajar dari batu akik. Sebongkah batu yang tak berharga, menjadi bernilai. Hal itu sama seperti manusia.

Oleh karenanya, pengrajin batu akik tak ubahnya seorang seniman yang membentuk batu dengan hati menjadi bentuk yang indah.

Kujang batu akik buatannya mempunyai banyak variasi, dari warna, ukuran, hingga jenis batu. Tak hanya untuk pajangan, batu kujang ini juga bisa dijadikan aksesoris, kalung misalnya.

Ia memasarkan dengan harga beragam, mulai dari Rp 150.000, tergantung bentuk, jenis batu, dan ukuran.

Jenis batunya pun bermacam, mulai dari giok hitam, chalcedony, hingga pancawarna, batu khas Loji, Karawang.

Selain bentuk kujang, ia juga membuat cincin dari berbagai macam jenis batu. Kemudian aksesoris seperti cincin, gelang, tasbih, dan kalung dengan liontin dari batu.

Siapa sangka, seorang kawan menginformasikan akan diadakannya pameran di Kantor Kedutaan Besar Indonesia di London. Ternyata, batu Kujang buatannya lolos seleksi.

Di samping itu, ia juga pernah mendapat pesanan dari Malaysia, Singapura, dan beberapa daerah di nusantara.

Ia juga meraih penghargaan dari MURI rekor 72 seniman, 72 karya, 72 menit tampil bareng dalam rangka HUT Jawa Barat ke-72.

Ki Nata juga bersyukur respon dari dinas terkait dan Persatuan Hotel Restoran Indonesia (PHRI) Karawang cukup baik. Ia kerap kali diberi kesempatan membuka stand di acara pemerintahan dan hotel-hotel.

“Omsetnya lumayan, bisa untuk mencukupi kebutuhan satu bulan,” katanya. (Priatna.ISC)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *