Surabaya Baca indosinju.com – Perbakin Surabaya sangat respon Itikad Baik Masyarakat di Kabupaten Gersik, Lamongan, Probolinggo, Lumajang dan Bondosowo, provinsi Jawa Timur Banyaknya teror dari hama babi hutan. .
Masing-masing Bupati dari ke lima daerah yang diserang hama celeng ini menyurati Persatuan Penembak Indonesia (Perbakin) di masing-masing wilayah. Mereka meminta Perbakin agar memberantas hama celeng yang telah meresahkan warga.
Menyikapi Hal ini, Perbakin Surabaya merespon permintaan tersebut, lalu berkordinasi dengan pihak Binmas Polda Jatim. Bahkan Polda Jatim sendiri uda memberikan izin Kepada Perbakin surabaya, namun sayangnya permntaan Masyarakat Dan Petani tidak didukung BKSDA Jatim Untuk memberikan izin, dengan alasan menunggu penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Aturan BKSDA Yang sangat tidak Masuk Akal.
Ironisnya, hingga berita ini dimuat di media Masa bahwa BKSDA Jatim belum memberikan izin. Pada hal, Surat permintaan berburu tersebut telah yang disampaikan ke Perbakin Jawa Timur pada tanggal 29 April 2016 dan 16 Juni 2018, kepada Perbakin Lumajang tanggal, 28 April 2016, kepada Perbakin Bondowoso, tanggal 31 Mei 2016 serta surat yang diterima Perbakin Surabaya, tanggal 16 Mei 2016. Namun, hingga lebih dari 1 tahun akhir Agustus 2017, surat izin berburu tersebut belum juga dikeluarkan BKSDA Jatim.
Ketua Perbakin Surabaya, William Marthen R Banua sangat menyanyangkan sikap BKSDA Jatim. William menegaskan, karena hama babi sudah masuk perkampungan, merusak lahan pertanian dan menyerang warga sudah sepantasnya BKSDA Jatim mengeluarkan izin Dengan adanya Hama Babi Yang meresahkan Petani.
Menurutnya, hama babi yang telah masuk perkampungan bukan lagi wewenang BKSDA, cukup hanya izin pemerintah daerah setempat. Terlebih, populasi babi hutan telah melebihi ambang batas normal dan meresahkan masyarakat. Sehingga para petani kerap mengalami kerugian yang cukup besar akibat gagal panen menyusul gangguan babi hutan tersebut.
“Apabila populasi babi hutan telah melebihi ambang batas normal, BKSDA semestinya memberikan izin. Kalau menurut Perkap Kapolri, perizin yang kami miliki telah cukup,” Ketua Perbakin Surabaya, William Marthen R Banua didampingi Sekretaris Lik Artono,SH saat ditemui dikantornya Jl.Darmo Kali N0.12 Surabaya, Jumat (18/08).
Terlebih, William mengaku pihaknya telah mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membayar pajak atau biaya berburu kepada negara. ‘Artinya, kami telah membeli hewan itu, tolong dong diberi izin. Kok uang diterima, tapi izin tidak diberikan. Lagian ini demi membantu warga dan petani,” uangkapnya.
Untuk diketahui, warga warga desa Ponggo kecamatan Tambak kabupaten Gresik kepulauan Bawean hingga 10 tahun belakangan ini tak dapat bercocok tanam. Kepala desa Ponggo M.Salim mengaku warganya resah dan enggan bercocok tanam karena selalu dirusak oleh hama celeng, moyet dan kalong yang berjumlah ratusan ekor ini. “Tanam warga selalu dimakan, jadi warga tak pernah menikmati hasilnya,” kata Kades Ponggo M.Salim.
Bahkan, lanjut Salim, celeng, kalong dan moyet sampai masuk ke rumah warga. “Kalau rumah warga terbuka, moyet-moyet itu langsung masuk ke rumah. Semua ruangan di obrak abrik,”ungkapnya.
Keterangan M. Salim ini diamini oleh Ketua TPM desa Ponggo Karsono. Karsono mengaku hama-hama tersebut telah merusak tananamnya. “Sebelumnya di desa ini gak ada celeng dan moyet, saya masih menanam padi. Tapi sekarang sudah tidak bertani lagi. Padinya dirusak celeng,” kata ketua TPM desa Ponggo Karsono.
Warga Dusun Kedungringin, Desa Kedungjambangan, Kecamatan Bangilan kabupaten Tuban Diserang Babi Hutan. Babi hutan yang turun ke pemukiman dan menyerang warga. Dua warga setempat harus mendapat perawatan medis di Puskesmas Bangilan setelah mengalami luka cukup serius, akibat terkena serangan babi hutan.
Hal ini dibenarkan Kapolsek Bangilan, Aiptu Sugiono melalui anggotanya menjelaskan, sekitar pukul 07.30 WIB dua orang mengalami luka, karena digigit babi hutan. Kedua korban bernama Nasikah (55) dan Purwanto (45).
“Kejadian bermula saat babi hutan s
Kejadian bermula saat babi hutan sebesar kambing datang dari arah selatan atau sawah menuju teras rumah warga bernama Mukminin, karena merasa takut akhirnya diusir dan lari ke utara ke rumah warga lain,” terang Humas Polsek Bangilan, Aiptu Sugiono.
Lebih lanjut Aiptu Sugiono menambahkan, pada saat itu Nasikah sedang mencuci pakaian di samping rumah. Secara tiba-tiba babi hutan yang sebelumnya diusir Mukminin, lari dari selatan kemudian menyambar dan menggigit Nasikah. “Nasikah diserang dan harus jatuh bangun,” cerita Sugiono.
Ketika mendengar jeritan dan meihat korban diserang babi hutan, Sugiono menuturkan, tetangga korban, Purwanto bermaksud membantu, akan tetapi babi hutan masih menyerang bringas yang mengakibatkan dirinya ikut terluka. “Purwanto akhirnya mengambil potongan bambu dan kemudian melawan sehingga babi hutan tersebut tewas,” jelas Sugiono.
Infromasi yang berhasil dihimpun, Nasikah menderita luka terbuka pada lengan tangan kanan kiri dan telapak tangan kiri. Begitu juga dengan Purwanto mengalami luka terbuka pada dada sebelah kiri, luka robek pada telapak tangan kiri, dan luka terbuka pada paha kiri.
Hal serupa juga terjadi di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, hingga mengalami korban jiwa. Informasinya, tiga warga Desa Taman Kursi, Kecamatan Sumbermalang kabupaten Situbondo, Jawa Timur, diserang babi hutan. Akibat serangan babi hutan tersebut, dua warga mengalami luka-luka dan satu orang warga bernama Surija (65) meninggal dunia.
Peristiwa tragis yang dialami warga tersebut, pada saat mereka sedang santai di halaman rumahnya. Namun tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan seekor babi hutan yang langsung menyerangnya. Warga yang kaget tidak dapat malarikan diri. Bahkan babi hutan berukuran besar mengamuk dan terus menyerang secara membabi buta terhadap ketiga warga tersebut. “Dua warga terluka dan satu orang meninggal,” ujar AKP Wahyudi, Kasubag Humas Polres Situbondo.
Serangan babi hutan ini juga terjadi, di Desa Panceng, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Partai desa, rusak akibat serangan babi hutan satu musim tanam bisa mencapai 20 persen. ” Serangannya (hutan hutan, red) sangat merugikan petani. Bahkan, akibatnya sudah parah, ” ungkap Haji Komari keterangan keterangan Kepada menurut
dia, teror babi hutan tersebut umum menyerang banyak wilayah lain. Serangan celeng juga diketahui menyasar pertanian di banyak kecamatan.
Mulai wilayah kecamatan kota sampai ke daerah perbukitan seperti Bandar. Sebab, populasi mereka di hutan-hutan Pacitan masih cukup banyak. ” Wabah celeng ada di mana-mana, bukan hanya di Pringkuku. Memang menjadi momok bagi petani, ” kata Ismono.
Parahnya, celeng-celeng itu biasa turun ke lahan pertanian warga saat bayar musim tanam. Ismono menjelaskan, banyak petani yang mengeluh lantaran tanaman mereka belum genap aktif sebulan, tapi sudah porak-poranda karena serangan celeng. Ismono mengaku bingung sambungan celeng di pertanian warganya tersebut.
Biasanya, saat menjelang musim panen, para petani Dadapan memilih pertambakan lahannya setiap hari. Tidur di lahan pertanian pun nekat dilakoni para petani setiap hari.
Maklum, para petani enggan merugi karena produksi pertanian mereka diporakporandakan celeng. ” Meski wilayah karst, jika intensitas hujan cukup tinggi, petani bisa panen sampai tiga kali. Nah, selama tiga kali panen itu juga di antara mereka sampai pilih tidur di lahan pertanian untuk pelayaran serangan celeng, ” jelas Ismono.
Melihat fakta serangan dan teror yang telah meresahkan warga, semestinya pihak BKSDA Jatim bersedia memberikan izin kejuruan ke Perbakin Surabaya. Karena, anggota Perbakin sudah terlatih dan ahli dibidangnya. Mereka buka para perburuan pembohong. Namun, yang sangat disanyangkan dan menjadi pertanyaan di masyarakat, apakah korban jiwa barulah pihak BKSDA Jatim ikut memberikan ijin memburu .. ???
Hingga berita ini dimuat, Kepala Dinas BKSDA Jatim belum bisa saling terkait Pemberitaan Serangan Hama Babi Hutan di Berbagai Wilayah.[]
(Shinwe/Handk)


