MAJELIS SUNAN BLONGSONG MENGADAKAN ROTIBAN SEBAGAI KEGIATAN RUTIN TIAP BULAN

Bojonegoro _ Indoshinju.com

Pada 11,Desember, 2020, Kegiatan rutin satu bulan sekali dilaksanakan oleh majelis sunan blongsong dan acara ini baru berjalan 3 kali tapi alhamdulillah banyak mendapat respon dan antusias masyarakat sekitar, pengurus Nahdlotul Ulama baureno beserta Banom, kades setempat juga sebagai pemprakarsa berdirinya jamiyah tersebut.

kegiatan rutin rotiban tersebut juga diadakan santunan anak yatim diblongsong dan insylloh yatim yatim desa lain.
Menurut cerita masyarakat Desa Blongsong, Banu Sumitro memiliki nama kerajaan R. Gatot Helman, gelar Kebangsawanan Kanjeng Adipati Banu Sumitro.

Sementara nama Islam/ pesantrennya adalah Syeh Samsudin. Untuk nama Syeh Samsudin beliau benar-benar merahasiakan, jika nama itu disebut di wilayah Desa Blongsong maka akan ada kejadian yang tidak terduga dan tidak diinginkan.

Pada tahun 2004 pernah didatangkan seseorang dari Sarang Jawa Tengah yang bernama K.H. Umar Faroq yang dinilai bisa berkomunikasi dengan arwah orang yang telah meninggal.

Dari hasil komunikasi goib tersebut K.H. Umar Faroq menyampaikan bahwa Sunan Blongsong tidak mau disebut nama yang sebenarnya, jika disebut ada resiko yang harus ditanggung, dan jika ingin menyebut maka cukup dengan nama SUNAN BLONGSONG. Namun pada waktu berikutnya saat pengajian oleh K.H. Umar Faroq tanpa disengaja disebut nama Syeh Samsudin, seketika banyak keluar ular WELING yang membuat para hadirin lari berhamburan dan bubar. Kata Blongsong berarti bungkus, kurung, atau lindungan.

Dalam perjuangan siar Agama Islam dan juga perang melawan Belanda, setiap kali berhadapan dengan musuh, Sunan Blongsong dan Pasukannya selalu tidak kelihatan karena seperti tertutup, terbungkus, terlindungi.

Pencarian oleh pasukan Belanda juga selalu gagal, sehingga beliau dijuluki Sunan Blongsong.

Di tempat lain pernah terjadi pertempuran, seluruh pasukan Belanda mengalami kebingungan seperti tidak bisa melihat, sehingga tempat itu diberi nama Bowerno (Jawa : Bawur) sekarang disebut Baureno.
Dalam masa hidupnya Sunan Blongsong mendirikan istana kecil dan didepannya dibangun masjid.

Dimasa perang, istana kecil dan masjid tersebut dibakar oleh Belanda, Sekarang bekas istana kecil digunakan untuk Kantor Desa Blongsong dan bekas masjid digunakan makam. Hingga Beliau wafat dan dimakamkan, wilayah makam dan sekitarnya diberi nama Dusun Blongsong.

Makam Mbah Sunan Blongsong terletak di Dusun Blongsong Desa Blongsong Kecamatan Baureno Kabupaten Bojonegoro. Dagri Jalan Propinsi Bojonegoro-Surabaya km 27 masuk ke kanan kurang lebih 200 m.semoga kegiatan rotib dimaqom sunan blongsong bisa istiqomah dan bisa bermanfaat untuk lingkungan sekitar pada khususnya,ujar yik fauzi muhsin aljufri(isc.red).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *