Surabaya indoshinju.com – Alun-alun Sidoarjo dipadati oleh siswa siswi SMA Santo Carolus Surabaya. Mereka membawa benner dan tas-tas dari kain.
Tujuan mereka adalah Mengajak masyarakat untuk membiasakan memakai tas yang bisa dipakai lebih dari satu kali, seperti yang dibawa oleh siswa dan siswi ini.
Siswa siswi ini akan menukar tas kresek para pengunjung alun alun Sidoarjo dengan tas kain yang telah disiapkan oleh pihak sekolah.
Kampanye ini dilakukan mulai tanggal 7 Januari 2018. Waktu itu kegiatannya dilakukan di taman bungkul Surabaya. Dan pada hari ini mereka memilih alun- alun kota Sidoarjo.
Program Pantang Plastik sudah dilakukan sejak empat tahun yang lalu di SMA Carolus Surabaya.
Kampanye Ini juga diadakan dalam rangka ulang tahun SMA Santo Carolus Tarakanita Surabaya yang ke 25.
Kepala sekolah SMA Santo Carolus, Drs. Ignatius Oky Soerjanto mengatakan, ” Kegiatan kampanye pantang plastik akan kami lakukan setiap dua bulan sekali dan ditempat yang berbeda-beda,”
Mengapa plastik berbahaya? Pertanyaan itu yang harus kita cari jawabannya dan kita mengerti sehingga kita bisa melakukan dengan kesadaran.
Plastik atau tas kresek sangat berbahaya karena dapat Memicu perubahan iklim. Dari proses produksi, konsumsi, hingga pembuangannya menghasilkan emisi karbon yang tinggi sehingga berkontribusi terhadap perubahan iklim karena kondisi bumi semakin memanas.
Juga Mencemari lingkungan, Kantong plastik yang dibuang sembarangan bisa menyebabkan tersumbatnya selokan dan badan air, termakan oleh hewan dan rusaknya ekosistem di sungai dan laut.
Yang paling berbahaya dari semua itu adalah Berbahaya bagi manusia, Kantong plastik yang dibakar bisa menyebabkan pencemaran udara dan gangguan pernapasan. Selain itu, kantong plastik yang digunakan sebagai wadah makanan berpotensi mengganggu kesehatan manusia.
Tas kresek juga Terurai sangat lama, Kantong plastik (dan jenis plastik lainnya) sulit terurai di tanah karena rantai karbonnya yang panjang, sehingga sulit diurai oleh mikroorganisme. Kantong plastik akan terurai ratusan hingga ribuan tahun kemudian. (Deby)


