Festival Lounching Kampung Ledre 2026 Mampu Mendobrak, Pendapatan Para UMKM Kecamatan Purwosari

Bojonegoro –Indoshinju.com _  Ledre Sekarang bukan sekadar jajanan tradisional.

Namun Kuliner khas Bojonegoro itu kini didorong naik kelas menjadi identitas daerah sekaligus penggerak UMKM.

Puncak Festival Ledre 2026 Bojonegoro yang digelar di Lapangan Purwosari, Desa Sambong, Pada Kamis (8/10/2026) menjadi semangat bagi para pelaku UMKM khususnya Ledre yang menjadi Ikon Kecamatan purwosari Kab. Bojonegoro.

Festival yang digelar di Kecamatan Purwosari ini melibatkan 12 desa.
Masing-masing desa membawa produk unggulan dan kreasi UMKM, menjadikan festival bukan hanya panggung ledre, tetapi juga Etalase Etalase potensi ekonomi masyarakat yang di tampilkan secara Parade oleh Pelaku usaha mikro kecil menengah.

Camat Purwosari Ike Widyaningrum menegaskan, festival tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Purwosari.

Apalagi, kecamatan tersebut dipercaya menjadi lokasi perdana penyelenggaraan Festival Ledre 2026.

“Kami sangat bangga dan mengapresiasi kegiatan ini. Kecamatan Purwosari mendapat kepercayaan untuk melaksanakan Festival Ledre 2026, tentu ini menjadi kebanggaan bagi kami,” kata  Ike.

Tak ingin berhenti sebagai festival perdana, Pemkab Bojonegoro diharapkan menjadikan kegiatan tersebut sebagai agenda rutin.

Festival Ledre juga didorong masuk kalender event daerah agar gaungnya semakin luas dan mampu mendongkrak potensi UMKM.
“Festival ini merupakan yang pertama.

Ke depan kami berharap bisa menjadi kalender event yang rutin dilaksanakan di Kabupaten Bojonegoro,” katanya.

Ike menyebut, misi utama festival bukan sekadar meramaikan agenda daerah.
Lebih dari itu, ledre ingin ditempatkan sebagai salah satu identitas kuliner Bojonegoro yang terus berkembang mengikuti selera masyarakat.

“Tujuannya menjadikan ledre sebagai salah satu kebanggaan dan identitas Kabupaten Bojonegoro. Kami juga berharap ada inovasi sehingga ledre bisa dikembangkan dalam berbagai varian,” tegasnya.

Tak berhenti di festival, Ike bahkan ingin ledre semakin dekat dengan aktivitas pemerintahan dan berbagai agenda daerah.
Ia mendorong ledre menjadi suguhan dalam rapat OPD maupun berbagai event di Bojonegoro.

“Kalau bisa, setiap ada rapat atau pertemuan, termasuk rapat OPD dan event-event, ledre menjadi salah satu suguhan. Ini bentuk kebanggaan terhadap produk kita sendiri,” ungkapnya.

Bagi pelaku UMKM, festival tersebut menjadi angin segar.
Ita, salah satu pemilik stan UMKM, mengaku senang karena kegiatan tersebut membuka ruang promosi sekaligus peluang meningkatkan keuntungan bagi pelaku usaha lokal Purwosari.

“Kami sangat bahagia dengan adanya acara ini. Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat bagi UMKM Purwosari, terutama untuk mengenalkan produk dan meningkatkan penjualan,” kata Ita.

Ia berharap geliat UMKM di Purwosari semakin kuat setelah adanya Festival Ledre 2026.
Semangat itu, menurutnya, sejalan dengan harapan agar Purwosari terus berkembang dan sesuai dengan slogan “Purwosari Bermartabat”.

“Semoga Purwosari semakin damai, maju dan lancar. Mudah-mudahan kegiatan seperti ini terus memberikan manfaat bagi masyarakat dan UMKM,” harapnya.

Menariknya, panggung Festival Ledre 2026 juga menjadi ruang bagi inovasi produk sekolah.

SDN Purwosari 3 atau Espaga turut membawa aneka olahan berbahan dasar sawi, mulai dari kerupuk, stik, ledre, peyek hingga makanan krispi.

Guru SDN Purwosari 3, Bu Puji, mengatakan produk tersebut lahir dari upaya memanfaatkan hasil kebun sekolah sekaligus mengenalkan olahan sayuran kepada anak-anak melalui bentuk makanan yang lebih menarik.

“Semua produk ini berbahan dasar sayuran yang kami inovasikan menjadi berbagai bentuk supaya anak-anak menyukainya. Ada kerupuk, stik, ledre, peyek dan krispi, semuanya berbahan dasar sawi,” jelas Puji.

Inovasi itu juga membawa misi pemberdayaan. Ide dari kepala sekolah tersebut diarahkan untuk melibatkan wali murid perempuan agar memiliki aktivitas produktif sekaligus peluang mendapatkan tambahan penghasilan.

“Kebun kami namanya ‘Sikap’. Kebetulan hasil yang melimpah adalah sawi, sehingga Kepala Sekolah menginisiasi berbagai inovasi makanan berbahan sawi. Ini sekaligus untuk memberdayakan wali murid,” pungkasnya.

 

Masih pada acara yang sama para penjajak makanan kuliner khas Seperti Nasi pecel , lontong pecel Lontong Kare ,warung Dua putri milik Prihantini, Habis terjual pada sore hingga malam hari puncak Loncing kampung Ledre berlangsung.  Dengan penambahan omset yang signifikan.
“Kegiatan Seperti ini semoga pemerintah bisa di agendakan menjadi kegiatan tahunan .ucapnya.(sh)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *