Dari Ketupat hingga Doa Bersama, Gumbregan Menyatukan Sedulur Sikep dalam Syukur

BOJONEGORO – Indoshinju.com Masyarakat Sedulur Sikep di Dusun Jepang, Desa Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, kembali menggelar tradisi Gumbregan pada bulan Suro dalam penanggalan Jawa. Tradisi tahunan ini menjadi wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kesehatan, kesejahteraan, serta manfaat hewan ternak yang selama ini menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat, Jumat (19/6/2026).

Bagi masyarakat Sedulur Sikep, Gumbregan bukan sekadar ritual adat. Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun ini mengandung nilai penghormatan terhadap hewan ternak seperti sapi, kerbau, dan kambing yang telah membantu aktivitas pertanian dan kehidupan sehari-hari.

Penerus ajaran Samin Surosentiko, Bambang Sutrisno, menjelaskan bahwa tradisi Gumbregan merupakan bentuk ungkapan terima kasih kepada Tuhan sekaligus penghargaan kepada hewan peliharaan yang telah memberikan manfaat bagi manusia.

“Gumbregan adalah ungkapan rasa syukur kepada Tuhan karena hewan ternak telah membantu pekerjaan sehari-hari. Melalui tradisi ini, kami juga mengajarkan nilai kasih sayang dan penghormatan terhadap seluruh makhluk hidup yang turut menopang kehidupan manusia,” ujarnya.

Ia menambahkan, pelaksanaan Gumbregan tahun ini juga menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya sekaligus penguatan usulan tradisi tersebut sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB).

Rangkaian kegiatan diawali dengan gotong royong warga menyiapkan berbagai hidangan tradisional, terutama ketupat dan jadah ketan. Setelah seluruh persiapan selesai, masyarakat berkumpul mengikuti doa bersama yang dipimpin oleh Mbah Salam.

Dalam prosesi tersebut, ketupat dan aneka hidangan yang telah didoakan kemudian disantap bersama keluarga sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur. Sebagian makanan juga diberikan kepada hewan ternak sebagai bentuk kasih sayang dan penghargaan atas jasa mereka.

Tradisi Gumbregan tahun ini turut dihadiri sejumlah tamu dari berbagai daerah, di antaranya pemerhati budaya Samin dari Yogyakarta, tim Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro, serta budayawan dan pemerhati Samin, Adi Sutarto.

Melalui tradisi Gumbregan, masyarakat Sedulur Sikep terus menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur, mulai dari gotong royong, kebersamaan, rasa syukur, hingga pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan hewan. Di tengah arus modernisasi, tradisi ini menjadi pengingat bahwa kearifan lokal tetap relevan sebagai pedoman hidup yang selaras dengan lingkungan dan sesama makhluk hidup.(Red).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *