Potret Kemurnian Sejati Melawan Peradaban Gengsi

INDOSHINJU.COM-(opinion) REDAKSI 06/12/15.
Disudut tersembunyi dan terselip diantara rimbunya EUFORIA BOJONEGORO, yang terlena dalam siar kekayaan alamnya, disitulah dijumpai sebuah realita kehidupan yang mencengangkan.

Poteret perjuangan hidup seorang Ibu Tua yang berjalan menerpa terik dan debu disiang bolong dengan memanggul gulungan daun jati dipunggungnya, pemandangan yang seketika membuat otak menjadi gagu dan minim inspirasi

Membius mata hati, menidurkan imajinasi dalam kekosongan, tersisa mata yang terpana dan melelehkan cucuran cairan iba, melihat siratan ketabahan dan senyuman ramah dari bibir Sang Ibu yang perkasa ini.

Tiada nampak kegelisahan ataupun gambaran kesedihan pada garis garis wajah tigaperempat abad usianya.

Oh Ibu yang hebat !

Tabahnya hatimu tanpa peduli lelah, sama sekaali tiada terkontaminasi oleh peradaban gengsi yang menjadi trend kehidupan masakini.
Ketika orang gelisah tidak bisa tidur siang karena AC rumahnya yang tidak dingin lagi, justru kau sibuk menerpa debu dan menantang terik mentari, memperjuangkan hidup demi sesuap nasi.

Ketika orang gelisah dan risau berebut jalan diatas lembaran gengsi dan kemewahan, justru kau tersenyum berjalan melawan peradaban GENGSI, bersama lembaran lembaran daun jati.

Inilah sosok Ibu Rajinah, warga Desa Ngunut Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro, dalam usianya yang sudah tigaperempat abad dia masih saja bekerja dan berkarya dengan apa yang dia bisa, pantang berpangku tangan.

“Saya ini hidup sendiri nak, kalau tidak kerja ya tidak makan, siapa yang mau kasih makan, saya ini tidak punya rumah nak, saya numpang di emper rumah saudara, suami sudah meninggal, anak saya juga sudah berkeluarga, jadi sibuk dengan urusan keluarganya sendiri sendiri, ya beginilah Ibu cari makan sendiri sebisanya, sebab ibu tidak mau minta minta da merepotkan orang”, Ramahnya Ibu rajinah bertutur sembari berjalan perlahan.

Dengan senyum lepas dan bahasa jawanya yang kental, Ibu Rajinah kembali menceritakan pekerjaanya, tuturnya;
“Setiap hari saya berangkat subuh nak, masuk kehutan memetik daun jati ini, setelah dapat dua gulungan ini lalu saya bawa ke Pasar Dander, ini biasanya dibeli Rp 25.000 (duapuluh lima ribu rupiah) sama langganan di Pasar Dander”.

Sungguh hasil yang sangat tidak sebanding dengan jauhnya perjalanan yang ditempuh hingga puluhan kilometer dengan berjalan kaki.
Ibu yang hebat tetaplah berjalan, dirmu dalah perhiasan, kau adalah emas mutiara, kau adalah yang mulia disisi Tuhan.

Kaulah Potret kemurnian sejati diantara kotor dan rimbunya perdhu hati para pemimpin bangsa ini, yang tega dan berbahagia berjalan dan menari diatas lembran lembaran praktek korupsi.(isc)

Related posts