Saturday 22nd September 2018

TOKOH TOKOH ASAL “BEDA” , HM. ALI MUSTOFA

TOKOH TOKOH ASAL “BEDA” ,  HM. ALI MUSTOFA

BOJONEGORO INDOSHINJU.COM **  

BILA melihat dan mengamati ulah para tokoh tokoh saat ini kayak komedian. Saling gontok gontokan adu argumentasi yang cenderung jadi komuditi empuk media media.

Baik media online maupun media elektronik. Yang membuat perut rakyat kegelian karena mentertawakan mereka mereka yang mengaku atau disebut tokoh.
Mereka selalu bilang kita hidup di negara demokrasi, tapi mereka sendiri tidak bisa saling menghormati.

Satu sama lain mempertahankan pendapat masing masing dan tak mau mengakui ide atau gagasan yang lainnya juga. Mereka lebih memilih membuat pertahanan untuk kelompoknya sendiri sendiri tanpa berfikir dalam bahwa kelompok lain lebih bisa diterima secara umum oleh rakyat.


Ada yang beranggapan mereka sebagai pengkritisi atau bahkan  menganggap dirinya sebagai pengontrol kebijakan pemegang mandat rakyat. Ujung ujungnya lagi ternyata bila kita amati, ternyata asal beda.
Tokoh tokoh yang seperti itu di era sekarang ini makin bermunculan.

Yang membuat prihatin kita semua adalah tokoh yang selalu bersuara asal beda, biarpun sebenarnya penerima mandat rakyat yang menjalankan roda pemerintahan negara ini sudah melaksanakan dengan baik. Keberhasilanpun dipandang beda dan sebelah mata.


Perselisihan di meja diskusi tetap terbawa sampai pada tataran implementasi. Rakyat sampai berfikir mereka mereka yang punya watak asal beda itu sudah dibutakan oleh syahwat ambisi yang berlebihan.


Kita saat di bangku sekolah dasar dulu sudah diajarkan tentang berdemokrasi yang baik. Bila kita kalah mendapat mandat rakyat sudah seharusnya menghormati yang mendapatkan mandat rakyat. Soalnya proses untuk mendapatkan mandat itu pun dilahirkan dari proses demokrasi.


Kondisi seperti itu terjadi bukan hanya ditingkat atas saja, tetapi sudah mewabah di daerah bahkan sampai ditingkat yang paling bawah yakni desa.


Rakyat bertanya mengapa mereka tidak mau akur dalam arti bukan untuk persekongkolan jahat, tapi akur dalam kebersamaan membangun bangsa yang beradab dan saling melengkapi kekurangan satu sama lain.

Janganlah kehilangan jati diri bangsa ini yang sesungguhnya adalah kebersamaan dari keragaman yang kokoh sehingga terwujud sebuah negara Indonesia yang kita cintai ini. Bukan malah dirongrong kebersamaan itu hanya demi mewujudkan ambisi segelintir Tokoh di bumi pertiwi ini yang sudah tidak terbendung syahwat kekuasaannya.(06/06/2018. Isc )

Penulis : HM. Ali Mustofa / Politisi Restorasi

No Responses

Leave a Reply

three × four =