Home Daerah Meskipun Belum Masuk Kategori Pelanggaran Pilkada, Andri Sarankan Kemenag Karawang Agar Jaga...

Meskipun Belum Masuk Kategori Pelanggaran Pilkada, Andri Sarankan Kemenag Karawang Agar Jaga Sikap

381
0
SHARE

Karawang,jabar Indoshinju.com 

Kamis 5/3/2020 Menjelang kontestasi politik Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak Tahun 2020, yang juga di ikuti oleh Kabupaten Karawang, suhu politik sudah mulai memanas. Sekecil apa pun gerak tokoh – tokoh tertentu yang bakal maju dalam Pilkada selalu menjadi perhatian publik.

Tidak terkecuali bagi petahana, yang sudah dapat di pastikan bakal kembali maju sebagai calon kandidat Pilkada. Tak hanya sang petahananya saja yang menjadi perhatian publik. Sikap, perilaku dan tindakan orang yang berada di sekelilingnya pun tidak lepas dari perhatian publik.

Seperti halnya yang sedang viral dan menjadi trending topik pemberitaan media massa, soal photo Bupati Karawang, dr. Cellica Nurrachadiana bersama Kepala Kementrian Agama (Ka Kemenag) Karawang yang berpose salam 2 dua jari (jempol dan telunjuk). Sehingga di anggap oleh sebagian pihak, bahwa hal tersebut merupakan simbol 2 periode bagi petahana.

Tak hanya itu, sambutan Ka Kemenag Karawang pada saat meresmikan Kampung Santri pun di persoalkan. Karena di ujung sambutannya, Ka Kemenag Karawang menyampaikan susunan kalimat puisi yang di tujukan kepada Bupati Karawang sebagai bentuk pujian dalam hal program kerja.

Pemerhati politik dan pemerintahan, Andri Kurniawan yang awalnya tidak berkenan memberikan pendapat terkait hal ini, akhirnya angkat bicara juga setelah secara terus menerus di tanya awak media.

Mengawali pembicaraannya dengan awak media, Andri mengatakan. “Sebenarnya saya malas mengomentari hal seperti ini. Tapi jika statement saya bisa jadi masukan serta saran untuk semua pihak, baik lah saya akan nilai dari dua sisi. Tidak untuk membela atau juga menyalahkan pihak mana pun.”, Ungkapnya.

“Melihat kondisinya, saat ini untuk penetapan calon saja belum. Jadi, belum masuk kategori sosialisasi, apa lagi kampanye terbuka. Ada pun soal simbol dua jari, saya kira itu bisa banyak penafsiran. Pasalnya, ketika belum masuk masa kampanye, belum ada simbol – simbol khusus yang menjadikan simbol kandidat calon mana pun. Karena memang penetapan calon saja belum.”, Tuturnya.

“Lalu soal puisi di penghujung sambutan Kepala Kemenag yang memuji Bupati Karawang. Saya pun menilai, itu pujian biasa saja dari seorang Kepala Lembaga pada Bupati, dan itu pun pujiannya dalam bentuk program. Artinya tidak bernada kampanye, atau mengajak audiens untuk memilih kembali Bupati menjelang Pilkada.”, Jelasnya.

“Namun saya anggap wajar, ketika masyarakat menafsirkan lain – lain. Karena memang Tahun politik seperti ini sangat lah sensitif. Tapi itu tadi, jika kita lihat persoalan waktu. Saat ini belum bisa di kategorikan sebagai pelanggaran Pilkada.”, Katanya.

“Walau begitu, saya tetap menyarankan kepada pak Kepala Kemenag dan jajaran institusi Pemerintahan lainnya. Sebaiknya hindari hal – hal yang dapat menimbulkan opini publik. Ya walau pun memang kalau di lihat dari sisi regulasi, saya yakin belum masuk kategori pelanggaran.”, Ujarnya.

“Tapi menjelang Tahun politik seperti ini sangat lah sensitif sekali. Ketika ada simbol – simbol tertentu dan kalimat – kalimat yang identik dengan aroma kampanye, tentu akan memancing reaksi publik. Karena bagaimana pun pak Kepala Kemenag ini merupakan birokrat, tentu menjadi perhatian masyarakat.”, Pungkasnya.(Pri ISC)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here